Senin, 02 Januari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN CA. SERVIKS


LAPORAN PENDAHULUAN CA. SERVIKS

A.  DEFENISI
       Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya.
B.  ETIOLOGI
1. Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).
2. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).
3. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18.
4. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2
5. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali
6. Wanita merokok, karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh.
C. TANDA DAN GEJALA
1. Perdarahan
2. Keputihan yang berbau dan tidak gatal
3. Cepat lelah
4. Kehilangan berat badan
5. Anemia
D. KLASIFIKASI
1.     0 Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh
2.    I Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
3.    I a Karsinoma mikro invasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm, dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah.
4.    I b Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia
5.    II Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul
6.    II a Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infitrat tumor
7.    II b Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai dinding panggul
8.    III a Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina, sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
9.    III b Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul.
10. IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh
11.  IV a Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi
12. IV b Telah terjadi metastasi jauh.
E. PATOFISIOLOGI
Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuaomosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju kedalam rahim. Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak meminimalkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan pap smear.
F. MANIFESTASI KLINIS
Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau busuk yang khas. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan anemia. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar, ireguler, terraba lunak. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.







G. PATOFISIOLOGI PENYIMPANGAN KDM
























H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.     Sitologi, dengan cara tes pap
Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.
2.    Kolposkopi
3.    Servikografi
4.    Pemeriksaan visual langsung
5.    Gineskopi
6.    Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)
I.    PENATALAKSANAAN MEDIS
1.     0 :Biopsi kerucut
2.    I a :Histerektomi trasnsvaginal
3.    I b dan II a  : Biopsi kerucut
4.    II b , III dan IV: Histerektomi trasnsvaginal
5.    IV a dan IV b: Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan), Histerektomi, transvaginal, Radioterapi, Radiasi paliatif, Kemoterapi.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A.  PENGKAJIAN
1.     Identitas klien.
2.    Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
3.    Riwayat penyakit sekarang
4.    Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga.
5.    Riwayat penyakit terdahulu.
6.    Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.
7.    Riwayat penyakit keluarga
8.    Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain.
9.    Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.
10. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
• Perdarahan
• keputihan
b. palpasi
• nyeri abdomen
• nyeri punggung bawah
11. Pemeriksaan Dignostik
a.    Sitologi
b.    Biopsi
c.    Kolposkopi
d.    Servikografi
e.    Gineskopi
f.    Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif)
B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.     Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah.
2.    Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi
3.    Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia.
4.    Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi.
5.    Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu.
6.    Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampakdiagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga.
7.    Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubbungan dengan terbatasnya informasi.
C.  INTERVENSI
1.     Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia .
Tujuan:
Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.
Intervensi :
a)    Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit.
b)   Berikan cairan secara cepat.
c)    Pantau dan atur kecepatan infus.
d)   Kolaborasi dalam pemberian infus
2.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah.
Tujuan:
Masukan yang adekuat serta kalori yang mencukupi kebutuhan tubuh.
Intervensi:
a)    Kaji adanya pantangan atau adanya alergi terhadap makanan tertentu.
b)   Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian menu yang sesuai dengan diet yang ditentukan.
c)    Pantau masukan makanan oleh klien.
d)   Anjurkan agar membawa makanan dari rumah jika dipelukan dan sesuai dengan diet.
e)   Lakukan perawatan mulut sebelum makan sesuai ketentuan.
3.    Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan imunosupresi
Tujuan:
Potensial infeksi menurun dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
a)    Pantau tanda vital setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan.
b)   Tempatkan pasien pada lokasi yang tersedia.
c)    Bantu pasien dalam menjaga hygiene perorangan
d)   Anjurkan pasien beristirahat sesuai kebutuhan.
e)   Kolaborasi dalam pemeriksaan kultur dan pemberian antibiotika.
4.    Resiko tinggi terhaap cedera berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan:
Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
Intervensi :
a)    Kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap (Hb dan Trombosit)
b)   Lakukan tindakan yang tidak menyebabkan perdarahan.
c)    Observasi tanda-tanda perdarahan.
d)   Observasi tanda-tanda vital.
e)   Kolaborasi dalam tindakan transfusi TC ( Trombosit Concentrated).
5.    Inteloransi aktifitas berhubungan dengan keletihan sekunder akibat anemia dan pemberian kemoterapi.
Tujuan:
Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
Intervensi:
a)    Kaji pola istirahat serta adanya keletihan pasien.
b)   Anjurkan kepada pasien untuk mempertahan pola istirahat atau tidur sebanyak mungkin dengan diimbangi aktifitas.
c)    Bantu pasien merencanakanaktifitas berdasarkan pola istirahat atau keletihan yang dialami.
d)   Anjurkan kepada klien untuk melakukan latihan ringan.
e)   Observasi kemampuan pasien dalam malakukan aktifitas.
6.Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosa malignansi genokologis dan prognosis yang tak menentu.
Tujuan:
Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.
Intervensi:
a)    Gunakan pendekatan yang tenang dan cipakan suasana lingkungan yang kondusif.
b)   Evaluasi kempuan pasien dalam mengambil keputusan
c)    Dorong harapan yang realistis.
d)   Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai.
e)   Berikan dorongan spiritual.
7.Perubahan konsep diri (peran) berhubungan dengan dampak diagnosis kanker terhadap peran pasien dalam keluarga.
Tujuan :
Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
Intervensi :
a)    Bantu pasien untuk mengedintifikasi peran yang bisa dilakukan didalam keluarga dan komunitasnya.
b)   Bantu pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang spesifik yang dibutuhkan sehubungan dengan penyakitnya.
c)    Diskusikan dengan keluarga untuk berkompensasi terhadap perubahan peran anggota yang sakit.
8.Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi.
Tujuan :
Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi.
Intervensi:
a)    Baringkan pasien diatas tempat tidur.
b)   Kaji kepatenan kateter abdomen.
c)    Observasi tentang reaksi yang dialami pasien selama pengobatan
d)   Jelaskan pada pasien efek yang mungkin dapat terjadi.
D.  EVALUASI
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah :
1.     Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap terjadinya komplikasi perdarahan.
2.    Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh
3.    Tidak ada tanda-tanda infeksi
4.    Pasien bebas dari perdarahan dan hipoksis jaringan
5.    Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.
6.    Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.
7.    Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.
8.    Pasein dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi.


DAFTAR PUSTAKA

Ø  Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC : Jakarta
Ø  Doengoes, Marilyn.E 1989. Nursing care and Plans. Philadelphia: F.A Davis Company.
Ø  Mochtar, Rustam. 1989.Synopsis obstetric. Jakarta:EGC.
Ø  Prawirohardjo, Sarwono. 1994. Ilmu Kandungan. Jakarta: Gramedia.
Sanusi, Chandra. 1989: Ginekologi Greenhill edisi 10. Jakarta:EGC. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar